Festival Budaya Palembang 2025 Panggung Warisan, Ruang Kebanggaan

0
62

PALEMBANG, LogikaIndonesia.Com — Gedung Kesenian Palembang di Jalan Rumah Bari, Kelurahan 22 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil, kembali bergemuruh oleh semangat budaya. Pada tanggal 1–2 Oktober 2025, Dinas Kebudayaan Kota Palembang resmi menggelar Festival Budaya Palembang 2025—sebuah perayaan tahunan yang tak hanya menampilkan seni tradisional, tetapi juga menyalakan kembali kebanggaan kolektif akan warisan leluhur.

Memasuki tahun kelima penyelenggaraannya, festival ini telah menjelma menjadi lebih dari sekadar agenda rutin. Ia menjadi ruang perjumpaan lintas generasi, tempat di mana syair-syair lama kembali bergema, tarian-tarian sakral dipentaskan dengan khidmat, dan masyarakat dari 18 kecamatan se-Kota Palembang bersatu dalam semangat pelestarian.

Tiga Lomba, Satu Semangat

Tahun ini, tiga cabang lomba menjadi sorotan utama: Dendang Syair, Syarofal Annam, dan Rodat. Ketiganya bukan hanya bentuk ekspresi seni, tetapi juga cerminan spiritualitas dan nilai-nilai lokal yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Palembang.

Dendang Syair, misalnya, mengangkat naskah klasik Syair Perang Menteng dan Syair Burung Nuri. Dengan irama khas seperti Selendang Delima, Hiasan, dan Nenggung Mato, para peserta membawakan syair-syair tersebut dengan penuh penghayatan. Bukan hanya soal teknik vokal, tetapi juga soal bagaimana mereka menghidupkan kembali narasi sejarah dan filosofi yang terkandung di dalamnya.

Syarofal Annam dan Rodat pun tak kalah memikat. Kedua bentuk seni ini merepresentasikan tradisi keagamaan dan kebersamaan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Palembang. Dalam gerak dan lantunan, tersimpan nilai-nilai spiritual, solidaritas, dan penghormatan terhadap leluhur.

Dari Pemerintah untuk Rakyat

Festival ini merupakan bagian dari strategi besar program “Palembang Belagak,” yang digagas oleh Dinas Kebudayaan Kota Palembang untuk mendukung visi “Palembang Berdaya, Palembang Sejahtera.” Menurut Sekretaris Dinas Kebudayaan, Septa Marus, pelibatan aktif masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan program ini.

“Kami ingin mengajak masyarakat untuk lebih mencintai budaya Palembang lewat keterlibatan langsung. Peserta tidak hanya dari kalangan pelaku seni, tetapi juga masyarakat umum yang mewakili 18 kecamatan,” ujar Septa.

Sebagai bentuk apresiasi, panitia menyiapkan sertifikat, uang pembinaan, hingga hadiah khusus bagi pendukung paling heboh. Ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga ajang membangun solidaritas dan semangat kolektif.

Dewan Juri dan Coaching Clinic

Untuk menjamin kualitas dan integritas lomba, dewan juri independen dari Dewan Kesenian Kota Palembang serta para pemangku adat turut dilibatkan. Budayawan Vebri Al Lintani bertindak sebagai koordinator dewan juri, didampingi oleh Isnayanti Safrida dan Irfan. Mereka tak hanya menilai, tetapi juga memberikan coaching clinic kepada peserta—sebuah pendekatan edukatif yang menjadikan festival ini sebagai ruang belajar bersama.

Hadir pula perwakilan Kesultanan Palembang Darussalam, R.M. Rasyid Tohir dan Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir, yang menegaskan pentingnya menjaga kesinambungan budaya sebagai bagian dari identitas kota.

Harapan untuk Generasi Muda

Staf Ahli Walikota Bidang Keuangan, Pendapatan, Hukum & HAM, Edison, yang membuka acara, menyampaikan harapan besar terhadap generasi muda. Ia menekankan bahwa festival ini bukan hanya soal siapa yang menang, tetapi bagaimana anak-anak muda Palembang bisa merasa bangga dan terhubung dengan akar budayanya.

“Bukan hanya soal juara, tetapi bagaimana anak-anak muda kita bangga dengan warisan budayanya sendiri,” tegas Edison.

Ia juga mendorong agar setiap kegiatan masyarakat maupun pemerintahan lebih sering menghadirkan unsur budaya lokal, seperti Syarofal Annam dan Tarian Tepak Sirih. Menurutnya, budaya Palembang harus kembali berjaya di tanah kelahirannya, bukan sekadar bertahan.

Panggung Masa Depan

Festival Budaya Palembang 2025 bukan hanya perayaan, tetapi juga pernyataan: bahwa budaya bukan barang masa lalu, melainkan fondasi masa depan. Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, Palembang memilih untuk “belagak”—menampilkan diri dengan bangga, dengan budaya sebagai jantungnya.

Dan di Gedung Kesenian yang bersejarah itu, suara syair, hentakan Rodat, dan semangat para pendukung menjadi bukti bahwa warisan budaya Palembang masih hidup, tumbuh, dan terus menyala.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini