Ketika Gelar Magister Menjadi Janji Pengabdian
PALEMBANG,LogikaIndonesia.Com — Aula megah The Zuri Hotel Palembang, Sabtu (20/9)menjadi saksi momen bersejarah bagi 127 mahasiswa Program Magister Ilmu Pemerintahan Pascasarjana Universitas Tamansiswa (Unitas) Palembang. Dalam balutan tema filosofis “Suci Tata Ngesti Tunggal” yang bermakna kesucian hati melahirkan tertib dan damainya kehidupan menuju kesatuan dan kesempurnaan prosesi Yudisium XIX berlangsung khidmat, penuh haru, dan sarat makna.
Sebuah Perayaan Ilmu dan Integritas
Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, tokoh pendidikan, serta tamu undangan dari berbagai institusi. Di antaranya hadir Rektor Unitas Palembang, Nyi Assoc. Prof. Dr. Hj. Sisnayati, S.T., M.T., CIAR; Direktur Program Pascasarjana, Ki Dr. Drs. Muhammad Abduh, M.Si.; Ketua Majelis Cabang BPPTS Palembang, Nyi Dr. Desfitrina, S.E., M.Si.; Ketua Prodi Ilmu Pemerintahan, Bachtari Alam Hidayat, S.E., M.Si.; serta Dekan FISIP Universitas Sriwijaya, Dr. Ardiyan Saptawan, M.Si.
Dalam sambutannya, Rektor Sisnayati menegaskan bahwa gelar magister bukanlah sekadar simbol akademik, melainkan amanah besar yang harus diwujudkan dalam bentuk pengabdian nyata. Ia mengajak para lulusan untuk menjadikan ilmu sebagai alat transformasi sosial, bukan sekadar prestise pribadi.
“Yudisium bukan hanya akhir dari sebuah proses akademik, melainkan juga awal dari pengabdian yang lebih besar. Gelar magister yang saudara peroleh hari ini bukanlah sekadar tanda pencapaian, tetapi sebuah amanah. Sebagai alumni Pascasarjana Unitas Palembang, saudara diharapkan mampu menjadi pemimpin yang berintegritas, berpikir kritis, dan memberi kontribusi nyata dalam pembangunan bangsa,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya nilai-nilai Ki Hadjar Dewantara sebagai pedoman hidup: Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani — menjadi teladan di depan, penggerak di tengah, dan pemberi dorongan di belakang.
Pendidikan sebagai Jalan Pengabdian
Ketua Majelis Cabang BPPTS Palembang, Nyi Dr. Desfitrina, turut menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya yudisium ini. Baginya, pendidikan bukan hanya soal kecerdasan, tetapi juga tentang menanamkan nilai-nilai luhur untuk menghadapi tantangan zaman.
“Pendidikan bukan sekadar membuat kita pintar, tetapi menanamkan nilai-nilai luhur agar kita mampu menghadapi dinamika dan tantangan kehidupan. Seperti yang diajarkan Ki Hajar Dewantara, prinsip hidup yang kita pegang harus menjadi pedoman untuk terus berkontribusi,” ujarnya.
Desfitrina juga memuji kerja keras jajaran Unitas Palembang, termasuk para dosen, yang telah membentuk kompetensi lulusan agar siap menghadapi dunia kerja dan dinamika sosial-politik yang kompleks.
Ilmu yang Dihidupkan, Bukan Dipamerkan
Direktur Program Pascasarjana, Ki Dr. Drs. Muhammad Abduh, M.Si., menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung perjalanan akademik mahasiswa. Ia menekankan bahwa ilmu pengetahuan sejatinya harus diterapkan dengan hati dan integritas.
“Ilmu yang kalian dapatkan bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk dipraktikkan. Jika pun kalian melakukan kesalahan, jangan berhenti memperbaiki diri. Yang penting, tetap luruskan niat dan jadilah hamba Tuhan yang bermanfaat bagi sesama,” pesannya.
Abduh juga menyoroti bahwa sebagian besar lulusan adalah ASN yang memiliki tanggung jawab besar dalam melayani masyarakat. Ia berharap ilmu yang diperoleh dapat memperkuat kapasitas mereka dalam menjalankan tugas publik secara adil dan berkeadaban.
Lulusan dari Dua Angkatan, Siap Mengabdi
Ketua Prodi Ilmu Pemerintahan, Bachtari Alam Hidayat, menjelaskan bahwa peserta yudisium terdiri dari dua angkatan: semester ganjil dan genap tahun akademik 2024/2025. Mereka berasal dari latar belakang beragam ASN, pegawai pemerintah daerah, hingga politikus dan telah menunjukkan kontribusi besar dalam kegiatan akademik maupun sosial.
“Kenapa banyak harapan yang kami titipkan kepada mereka? Karena ilmu pemerintahan ini memang sangat berguna bagi pembangunan dan tata kelola pemerintahan. Semoga ilmu yang sudah kami berikan selama ini dapat dimanfaatkan untuk kemajuan daerah, khususnya di tempat mereka bekerja,” ujarnya.
Uci Sugiana Air Mata, Doa, dan Ketekunan
Salah satu momen paling menyentuh datang dari sambutan Uci Sugiana, salah satu lulusan yang berbagi kisah perjuangannya. Ia menggambarkan betapa beratnya perjalanan akademik yang dilalui bersama teman-temannya dari merantau jauh, bekerja sambil kuliah, hingga meninggalkan anak demi mengejar ilmu.
“Kita tumbuh bukan karena semua ini mudah, tetapi karena kita memilih untuk tidak berhenti,” ucapnya, disambut tepuk tangan hangat.
Dengan mata berkaca-kaca, Uci mempersembahkan kelulusannya kepada almarhum ayah dan ibu yang menjadi sumber motivasi terbesar. “Ragamu memang telah tiada, tetapi namamu akan selalu menjadi motivasi terbesar bagiku. Ayah, Ibu, anakmu akhirnya menyelesaikan S2,” katanya, mengundang haru di ruangan.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para dosen, staf kampus, hingga satpam dan petugas parkir yang telah menjadi bagian dari perjuangan para mahasiswa. Tak lupa, ia mengapresiasi teman-temannya yang selalu menjadi tempat berbagi cerita dan membantu di saat sulit.
Penutup yang Penuh Makna
Sebagai penutup, cinderamata diberikan kepada para tokoh penting yang hadir, termasuk Ketua BPPTS Palembang, Rektor Unitas Palembang, Dekan FISIP Unsri, dan mahasiswa berprestasi. Momen ini menjadi simbol penghargaan atas dedikasi dan kontribusi mereka dalam membentuk generasi pemimpin masa depan.
Yudisium XIX ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah perayaan ketekunan, pengabdian, dan harapan. Di balik toga dan ijazah, tersimpan janji untuk terus belajar, melayani, dan menjadi cahaya bagi masyarakat.







