PALEMBANG,LogikaIndonesia.Com – Di tengah hiruk-pikuk kota Palembang yang dipenuhi warna dan semangat kreativitas, seorang siswi kelas 7 dari SMPN 6 Palembang mencuri perhatian. Namanya Ahzarah peserta termuda dalam ajang Lomba Mural-Grafiti bertema “Palembang Belagak, Aksi Melawan Vandalisme.” Meski usianya masih belia, keberanian dan ekspresi visualnya berbicara lantang di antara para seniman mural dari berbagai latar belakang.
Empat Titik, Satu Pesan
Lomba mural yang telah memasuki hari kedua ini digelar di empat titik strategis kota: Simpang Charitas, Simpang DPRD Provinsi Sumatera Selatan, Simpang LP Wanita, dan depan KONI. Lokasi-lokasi tersebut kini menjadi kanvas publik, tempat para pemural menyuarakan pesan anti-vandalisme melalui warna, bentuk, dan imajinasi.
Dari Pelajar Hingga Profesional
Sebanyak 19 tim mural ambil bagian, terdiri dari pelajar SMA, mahasiswa, komunitas seni, hingga seniman profesional. Di antara mereka:
– SMA Sumatera Selatan
– Tim dari Prabumulih
– SMA Negeri 1 Sungai Penuh, Ogan Komering Ilir
– 16 tim lainnya yang berasal dari berbagai penjuru Palembang
Mereka datang bukan hanya untuk berkompetisi, tetapi untuk menyampaikan aspirasi bahwa seni bisa menjadi alat perlawanan terhadap vandalisme, dan ruang publik layak dihiasi dengan karya, bukan coretan tanpa makna.
Ahzarah Muda, Berani, dan Penuh Warna
Di antara para peserta yang sebagian besar berusia remaja hingga dewasa, Ahzarah tampil sebagai simbol harapan generasi baru. Dengan kuas di tangan dan semangat di dada, ia menunjukkan bahwa usia bukanlah batas untuk berkontribusi dalam gerakan kreatif. Karyanya, meski sederhana, memancarkan pesan kuat tentang kebersihan kota dan pentingnya menjaga fasilitas umum.
“Senang bisa ikut lomba ini. Aku ingin Palembang jadi kota yang indah dan bersih,” ujar Ahzarah dengan senyum malu-malu, di sela-sela proses melukis.
Seni Sebagai Aksi Sosial
Lomba mural ini bukan sekadar ajang unjuk bakat. Ia menjadi ruang dialog antara warga dan kota, antara generasi muda dan masa depan Palembang. Tema “Palembang Belagak” bukan tentang kesombongan, melainkan tentang kebanggaan: bahwa warga kota bisa beraksi melawan vandalisme dengan cara yang kreatif dan positif.







