PALEMBANG, LogikaIndonesia.Com — Pagi itu, aula sederhana SMA Negeri 6 Palembang di kawasan Sekip dipenuhi sorak bangga. Bukan angka di papan tulis yang jadi bahan pembicaraan, melainkan deretan panggung besar di luar sekolah hotel berbintang, venue megah, hingga arena kampanye publik. Dari sanalah para siswa sekolah negeri ini menorehkan cerita berbeda—bukan lewat ranking, tapi lewat keberanian tampil, kepedulian sosial, dan kreativitas tanpa batas.
Sekolah ini seakan ingin menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal angka rapor. Ia adalah ruang hidup yang bisa membawa siswa dari bangku kelas ke panggung prestasi, baik akademik maupun non-akademik.
Farrel Dari Sekolah ke Panggung Duta Pora
Nama Muhammad Farrel, siswa kelas XII.10, belakangan kerap menghiasi obrolan di lingkungan sekolah. Ia baru saja meraih predikat Most Valuable Participant (MVP) dalam ajang Pemilihan Duta Pora Sumatera Selatan 2025 di Hotel The Zuri Palembang.
Saat banyak temannya sibuk persiapan ujian akhir, Farrel justru tampil percaya diri berbicara soal kepemudaan, sportivitas, dan identitas lokal.
“Prestasi ini bukan soal gelar, tapi bagaimana kita bisa memberi contoh nyata,” ujarnya singkat usai ajang itu.
Seorang guru pembimbing menyebut, capaian Farrel adalah buah kerja keras. “Ia bukan hanya berbicara, tapi juga mempraktikkan nilai kepemudaan dalam keseharian di sekolah,” tuturnya.
Mutia Suara Advokasi dari Pelajar
Beberapa minggu setelah Farrel, giliran Mutia yang naik panggung. Dalam Pemilihan Putera Puteri Pendidikan Sumatera Selatan (8 Maret 2025), ia menyabet penghargaan Best Advocacy.
Mutia tampil meyakinkan dengan gagasan tentang pendidikan inklusif.
“Saya ingin pendidikan tidak hanya dinikmati mereka yang beruntung, tapi juga yang termarjinalkan,” ucapnya lantang saat sesi wawancara.
Ucapannya tak hanya membuat juri terkesan, tapi juga menjadi penanda bahwa suara advokasi pendidikan bisa lahir dari remaja.
Ibni Aiman Garda Anti-Bullying
Jalur berbeda ditempuh M. Ibni Aiman, siswa kelas XI.7. Ia keluar sebagai Juara 1 Duta Anti-Bullying tingkat Provinsi Sumsel.
Meski dikenal pendiam, Aiman berubah tegas saat bicara soal perundungan.
“Bullying bukan sekadar bercanda. Ia meninggalkan luka panjang. Kita harus berani menghentikannya,” katanya.
Prestasi ini membuat sekolah menaruh harapan besar padanya untuk menjadi wajah perubahan di lingkungan pelajar Palembang.
Talita Menggenggam Panggung Pariwisata
Tak hanya di bidang pendidikan dan sosial, siswa SMA Negeri 6 juga tampil di panggung budaya. Talita berhasil meraih predikat Duta Pariwisata Sumatera Selatan, mengalahkan puluhan peserta dari berbagai kabupaten/kota.
Di hadapan dewan juri, Talita berbicara tentang potensi wisata Sungai Musi dan kearifan lokal Palembang. “Pariwisata bukan hanya soal destinasi, tapi juga soal cerita dan identitas. Anak muda harus jadi bagian dari narasi itu,” ujarnya.
Prestasi Talita menambah daftar panjang wajah-wajah inspiratif yang lahir dari sekolah ini, membuktikan bahwa ruang kelas bisa melahirkan duta budaya sekaligus promotor wisata daerah.
Zaskia & Panggung Lalu Lintas
Semangat kepedulian juga hadir di panggung berbeda. Dalam Pemilihan Duta Lalu Lintas Kota Palembang (17 April 2025), tiga siswa SMA Negeri 6 kembali tampil. Farrel meraih penghargaan Persahabatan, Aiman menembus final, dan Zaskia Meilingga (XII.7) ikut berdiri di panggung besar itu.
“Kami ingin anak muda sadar bahwa satu keputusan di jalan bisa menyelamatkan banyak nyawa,” ujar Zaskia.
Akademik yang Gemilang
Tak hanya di panggung sosial, siswa SMA Negeri 6 Palembang juga mengukir jejak akademik. Nabila Zahra dan M. Fadlan berhasil meraih Juara 1 dan 2 Olimpiade Bahasa Inggris dan Matematika tingkat kota.
Di bidang sains, Azzahra Nabila dan Dewi Anggraini menorehkan prestasi dalam Olimpiade Biologi dan Fisika, menegaskan bahwa kecerdasan akademik tetap menjadi kekuatan sekolah ini.
Panggung sastra pun tak luput dari catatan emas. Rizky Ramadhan, Salsabila Putri, dan Dinda Ayu memikat publik lewat lomba pidato, baca puisi, dan cipta puisi. Sementara itu, Siti Nurhaliza keluar sebagai Juara 1 lomba menulis artikel tingkat kota.
Di tingkat nasional, nama Nabila Aulya Zulkarnain ikut bersinar dengan meraih Juara 3 Karya Tulis tingkat nasional, membuktikan bahwa kiprah siswa SMA Negeri 6 tak hanya di Sumsel, tetapi juga di panggung Indonesia.
Seni, Kreativitas, dan Olahraga
Kreativitas seni juga jadi kebanggaan tersendiri. Aulia Rahma berhasil meraih Juara 1 lomba desain poster tingkat provinsi, disusul Rizka Amelia dan M. Iqbal yang menorehkan prestasi lewat lomba poster lingkungan.
Dunia tari juga tak ketinggalan. Nadya Khairunnisa dan Rafi Pr menampilkan keindahan gerak hingga meraih penghargaan dalam lomba tari kreasi tingkat provinsi.
Sementara itu, bidang olahraga menorehkan catatan emas lewat M. Alfarizi dan Putri Ananda, yang sukses membawa pulang Juara 1 dan 2 kejuaraan pencak silat tingkat nasional.
Tak lupa, sentuhan religius hadir lewat M. Rizki dan Aulia Putri yang menjuarai lomba kaligrafi, serta Farhan Akbar dan Nabila Sari yang memenangkan lomba fotografi tingkat kota.
Sekolah yang Hidup dari Prestasi Murid
Bagi Kepala SMA Negeri 6 Palembang, Fir Azwar, S.Pd., M.M., deretan prestasi ini adalah bukti bahwa sekolah bisa menjadi ruang inspirasi.
“Sekolah bukan hanya soal nilai akademik. Kami ingin anak-anak menemukan jati diri mereka, berani tampil, dan punya kepedulian pada sekitar. Apa yang diraih Farrel, Mutia, Aiman, Zaskia, Talita, maupun Nabila dan kawan-kawan adalah bukti pendidikan itu hidup, nyata, dan berdampak,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa dukungan sekolah terhadap kegiatan non-akademik bukan sekadar formalitas.
“Kami percaya panggung prestasi anak-anak di luar kelas adalah bagian dari pendidikan karakter. Inilah bekal masa depan mereka, lebih besar dari sekadar angka ujian,” tambahnya.
Generasi Inspirasi
Deretan penghargaan itu menunjukkan satu hal: SMA Negeri 6 Palembang bukan hanya mencetak siswa pintar, tetapi juga generasi inspiratif—anak-anak muda yang berani bersuara, berkarya, dan peduli.
Di tengah hiruk-pikuk perlombaan ranking, sekolah ini menulis kisah lain: tentang siswa yang menjadikan panggung sosial, budaya, seni, akademik, dan olahraga sebagai ruang belajar. Tentang pendidikan yang menumbuhkan keberanian, kepedulian, sekaligus kepemimpinan.
SMA Negeri 6 Palembang patut berbangga. Bukan hanya karena piala dan penghargaan, melainkan karena telah melahirkan generasi yang menulis ulang makna sekolah bagi masa depan Palembang dan Indonesia.







