Air Mancur Masjid Agung Jadi Ikon Baru Kota
PALEMBANG, LogikaIndonesia.Com – Di jantung Kota Palembang, tepat di bundaran Masjid Agung yang telah lama ditetapkan sebagai titik nol, sebuah transformasi tengah dirancang. Pemerintah Kota Palembang bersiap menghadirkan wajah baru kota melalui pembangunan tugu air mancur modern yang bukan sekadar ornamen, melainkan simbol identitas dan spiritualitas kota.
Wakil Wali Kota Palembang, Prima Salam, memimpin langsung rapat final perencanaan proyek yang ditargetkan rampung pada 20 Desember 2025. “Tugu ini bukan sekadar hiasan, tetapi identitas Palembang,” tegasnya. Lebih dari sekadar estetika, air mancur ini akan dilengkapi dengan sistem keamanan terpadu—CCTV dan pengawasan Satpol PP—menjadikannya ruang publik yang aman sekaligus memikat.
Tiga Bulan Menuju Ikon Baru
Dengan masa pengerjaan yang dirancang hanya tiga bulan, proyek ini kini menunggu penetapan kontraktor pelaksana. Tender diperkirakan selesai dalam satu bulan ke depan, membuka jalan bagi pembangunan yang diharapkan menjadi kebanggaan warga.
“Bundaran Masjid Agung sebagai titik nol kota harus menjadi ikon baru yang membanggakan,” ujar Prima, menekankan pentingnya optimalisasi desain dan pelaksanaan.
Nuansa Palembang Darussalam dan Sentuhan Religius
Di balik desainnya, tugu air mancur ini mengusung semangat Palembang Darussalam. Tim 11 bersama konsultan CV Andira menggali elemen lokal seperti motif cempaka telok, menghadirkan nuansa historis dan budaya yang khas. Abdi, Tim Leader Perencana dari CV Andira, menjelaskan bahwa desain kali ini jauh lebih ekspresif dan spiritual.
“Selain air mancur menari dan permainan cahaya, kami menambahkan running text Asmaul Husna. Nantinya juga bisa diisi konten religius lainnya,” ungkapnya.
Saat malam tiba, bundaran Masjid Agung akan berubah menjadi panggung atraksi visual. Air mancur menari berpadu dengan pencahayaan artistik dan alunan musik, menciptakan pengalaman multisensori yang mengundang decak kagum.
Ruang Publik yang Menghidupkan Identitas
Lebih dari sekadar proyek infrastruktur, pembangunan ini adalah upaya mempercantik ruang kota sekaligus memperkuat identitas kolektif. Di titik nol Palembang, sejarah, spiritualitas, dan estetika bertemu dalam satu tugu yang menari di bawah cahaya malam.







