Spectarion 2025 Festival Jiwa dari Sekolah yang Hidup

0
67

Di tengah tuntutan efisiensi dan anggaran yang kian terbatas, SMA Negeri 6 Palembang membuktikan bahwa sebuah perayaan sekolah bisa melampaui sekadar seremoni tahunan. Gelaran Spectarion 2025 yang berlangsung selama empat hari, dari 30 Juli hingga 2 Agustus, menjadi bukti nyata bahwa kreativitas, semangat kebersamaan, dan nilai spiritual dapat menjelma menjadi energi kolektif yang luar biasa.

Tahun ini, sekolah yang berdiri sejak 1981 itu merayakan usia ke-44 dengan menggelar dua agenda utama dalam satu napas: Spectasix (Spectacular Art Islamic Festival of Six) dan Sixterion (peringatan hari ulang tahun sekolah). Dari dua nama ini lahirlah Spectarion, sebuah festival sekolah yang menggabungkan ekspresi seni, penguatan karakter, dan refleksi keagamaan dalam satu harmoni.

Ketika Sekolah Menjadi Ruang Ekspresi Publik

Halaman sekolah berubah menjadi ruang terbuka bagi kreativitas: lomba seni antar siswa se-Sumatera Selatan, edukasi publik, jalan santai, hingga donor darah massal bersama PMI Kota Palembang. Bukan hanya murid dan guru, tapi juga orang tua, alumni, bahkan warga sekitar turut ambil bagian.

“Spectarion bukan hanya untuk berekspresi, tapi juga membentuk karakter sosial,” ujar Anang, Kepala Seksi Peserta Didik Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel, yang turut hadir dalam pembukaan acara.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa efisiensi anggaran tidak selalu berarti pengurangan makna. Justru dalam keterbatasan itulah muncul solidaritas, kekompakan, dan inovasi dari para siswa serta seluruh elemen sekolah.

Tradisi Agama yang Tetap Dijaga

Meski tahun ini SMAN 6 tidak menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dalam rangka HUT, bukan berarti nilai religius hilang dari perayaan. Kepala Sekolah Fir Azwar, S.Pd., M.M., menjelaskan dengan lugas alasan di balik keputusan tersebut.

“Di bawah pembinaan Ustadzah Suramun, Qori’ah Nasional, sekolah ini sudah menjuarai MTQ empat tahun berturut-turut. Kalau kita yang buat, nanti menang kita akan disangka ‘jeruk makan jeruk’,” ujarnya sambil tersenyum.

Sebagai apresiasi atas prestasi tersebut, pada 2023 lalu, sejumlah siswa SMAN 6 bahkan diberangkatkan umrah oleh Gubernur Sumatera Selatan. Ini menunjukkan bahwa pendidikan spiritual tetap menjadi ruh dari sekolah ini.

Momen Perpisahan yang Mengharukan

Tahun ini juga menjadi perayaan terakhir bagi Fir Azwar sebagai kepala sekolah, karena akan memasuki masa pensiun pada Januari mendatang. Dalam pidato penutupannya, ia menitipkan semangat dan nilai-nilai yang telah ditanamkan selama masa kepemimpinannya.

“Saya hanya berharap, siapapun kepala sekolah setelah saya, bisa terus menjaga budaya positif dan semangat yang sudah ada,” ucap Fir, penuh haru namun tegar.

Donor Darah, MoU, dan Gerakan Sosial

Salah satu program yang paling menyita perhatian dalam Spectarion 2025 adalah kegiatan donor darah yang menggandeng PMI Kota Palembang. Ketua PMI, Hj Dewi Sastrani Ratu Dewa, menyatakan apresiasinya atas tingginya partisipasi siswa dan mengungkapkan niat untuk menjalin kerjasama jangka panjang melalui nota kesepahaman (MoU) dengan sekolah.

Spectarion telah melampaui batas acara ulang tahun sekolah biasa. Ia menjadi cermin dari sebuah institusi pendidikan yang hidup, berdenyut bersama zamannya—agamis, efisien, dan kreatif. Di tengah keterbatasan, SMA Negeri 6 Palembang justru menunjukkan bahwa dari sekolah lahir ruang pembelajaran sejati: tempat tumbuhnya ekspresi, karakter, dan solidaritas lintas generasi.

 

Catatan Redaksi:
Spectarion menunjukkan bagaimana sekolah bisa menjadi pusat kebudayaan dan kemanusiaan. Sebuah praktik baik yang layak ditiru.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini