Menyelamatkan Nadi Kota yang Memudar

0
83

Refleksi Hari Sungai Nasional dari Palembang, Kota Air yang Nyaris Kehilangan Anak Sungainya

PALEMBANG, LogikaIndonesia.Com –
Di Palembang, sungai bukan sekadar air yang mengalir. Ia adalah ingatan, identitas, dan nadi kota yang sejak berabad-abad lalu menghidupkan peradaban. Tapi hari ini, nadinya melemah.

Setiap tanggal 27 Juli, Indonesia memperingati Hari Sungai Nasional—sebuah momen yang seharusnya menghidupkan kembali kesadaran ekologis. Di Palembang, peringatan ini seolah menggema lebih nyaring, karena inilah kota yang sejak lama menyebut dirinya sebagai kota sungai. Tapi ironisnya, justru di kota inilah anak-anak sungai sedang menuju kepunahan.

Palembang: Venesia Timur yang Terlupakan

Pernah dijuluki sebagai Venesia dari Timur, Palembang memiliki sejarah panjang sebagai kota air. Sejak abad ke-7, lebih dari 700 sungai besar dan kecil membentuk jejaring kehidupan membelah kota, menyatukan manusia.

Anak-anak sungai seperti Sekanak, Tengkuruk, Aur, dan Prigi bukanlah aliran sembarangan. Di sanalah dulunya berdiri rumah-rumah panggung, pasar rakyat, bahkan pusat pemerintahan seperti Kraton Cinde Belang. Sungai menjadi panggung budaya, ruang interaksi sosial, bahkan jalur diplomasi Kesultanan.

Namun modernisasi, dan sebelumnya kolonialisme, mengubah segalanya. Sungai-sungai ditimbun, dialihkan, dikotori. Dari ratusan, kini hanya tersisa 114 anak sungai dan sebagian besar di antaranya berada dalam kondisi memprihatinkan.

Ancaman Nyata, Simbol yang Hilang

Tidak sulit melihat wajah muram anak-anak sungai hari ini. Yang dulu jernih dan sibuk oleh perahu, kini keruh, sepi, dan menyempit. Bahkan tak sedikit yang menjelma saluran limbah.

Beberapa catatan ancaman :

Pendangkalan dan pencemaran akibat limbah rumah tangga dan industri.

Alih fungsi lahan menjadi jalan, pasar, dan kompleks perumahan.

Kesadaran ekologis yang memudar, bahkan di kalangan generasi muda.

Penegakan hukum yang lemah, meski telah ada Perda dan Perwali terkait perlindungan sungai.

“Setiap anak sungai yang mati adalah fragmen sejarah yang ikut kita kubur,” kata Dr. Kemas A.R. Panji, sejarawan Palembang.

Titik Balik: Masih Ada Harapan

Di tengah keterpurukan itu, sejumlah upaya mulai dilakukan. Pemerintah Kota Palembang, didorong oleh aktivis dan komunitas sungai, mencoba merekatkan kembali hubungan kota dengan airnya.

Langkah-langkah yang mulai tampak:

Pemasangan plang nama dan barcode sejarah di sejumlah anak sungai—agar warga tahu, sungai itu punya kisah.

Revitalisasi Sungai Sekanak-Lambidaro, proyek percontohan yang mengedepankan pendekatan ekologis dan urban.

Kampanye dan edukasi publik, terutama di sekolah dan lingkungan warga bantaran.

Namun para ahli mengingatkan: pembangunan fisik tanpa jiwa hanya akan jadi lanskap mati. Revitalisasi sejati hanya akan terjadi jika warga merasa sungai adalah miliknya, bagian dari kehidupannya.

  1. Hari Sungai: Seruan untuk Peradaban

Hari Sungai Nasional bukan perayaan biasa. Ia adalah panggilan: untuk mengingat, menjaga, dan mewariskan sungai sebagai denyut hidup kota.

“Jika kita gagal menjaga sungai hari ini, maka kita sedang menenggelamkan peradaban esok hari.”
— Dr. Kemas A.R. Panji

Palembang masih punya waktu. Tapi tidak banyak. Menyelamatkan anak-anak sungai berarti menyelamatkan Palembang dari menjadi kota yang lupa asal usulnya. Dari kehilangan nadinya sendiri.

Jangan tunggu sampai sungai tinggal nama di plang sejarah.
Mari jaga, rawat, dan hidupkan kembali sungai-sungai kita—demi masa depan kota yang berjiwa dan berbudaya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini